Saturday, November 28, 2015

Wayang Orang Sriwedari, Seni Pertunjukan Yang Bertahan Lebih Dari Satu Abad

Alunan suara pesinden diiringi gamelan yang dimainkan para pengrawit mengiringi langkah kami memasuki Gedung Wayang Orang Sriwedari pada pukul 20.15. Baru baris depan yang terisi penonton, dan kami menghitung baru sekitar 10-15 orang yang sudah menempati kursi-kursi penonton. Sambil sesekali menatap ke arah panggung yang masih tertutup dan berharap pertunjukan segera dimulai, saya, Murni, Rinta dan Arum masih sibuk membahas harga tiket masuk sebesar Rp 3.000,- per orang, nilai yang kalau di Jakarta bahkan belum cukup untuk membayar parkir selama 1 jam di pusat perbelanjaan terkemuka.

Semakin malam, makin banyak penonton yang hadir dan memenuhi kursi di baris depan. Barangkali ada 4-5 baris kursi yang terisi sekitar 50-60 orang penonton. Di luar dugaan kami, ternyata cukup banyak penonton yang berusia muda, bahkan beberapa di antara penonton datang bersama keluarga dan anak-anak, padahal saat itu bukan malam libur. Rasanya senang mengetahui masih ada yang berminat menyaksikan pertunjukan tradisional seperti wayang orang.

 Wayang orang, atau dalam bahasa Jawa disebut wayang wong, adalah pertunjukan wayang yang dimainkan menggunakan orang. Pertunjukan semacam teater tradisional ini mulai berkembang di lingkungan keraton sejak diciptakan oleh Mangkunegara I dari Solo pada tahun 1757. Pertunjukan ini tidak bertahan lama, dan kemudian lebih berkembang di Yogyakarta. Di bulan April 1868, sewaktu Mangkunegara IV mengadakan acara khitanan untuk putranya, didatangkan kelompok wayang orang dari Yogyakarta, dan sejak saat itu wayang orang kembali hidup di Solo. Mangkunegara IV dan Mangkunegara V kemudian menyempurnakan pertunjukan wayang orang, khususnya dalam hal pakaian dan perlengkapan. Kisah yang ditampilkan kebanyakan bersumber pada cerita wayang purwa, yang merupakan pengembangan kisah Ramayana dan Mahabharata.

Wayang orang semakin berkibar di Solo sejak pembangunan Taman Sriwedari pada tahun 1899 oleh Susuhunan Pakubuwana X dari Surakarta. Di masa itu wayang orang masih merupakan konsumsi eksklusif bagi lingkungan keraton. Wayang Orang Sriwedari sendiri merupakan kelompok budaya komersial pertama dalam pertunjukan wayang orang. Berdiri pada tahun 1911, Wayang Orang Sriwedari mengadakan pentas secara tetap di Taman Sriwedari, yang merupakan taman hiburan umum miliki Keraton Kasunanan Surakarta. Saat ini terdapat 33 Pegawai Negeri Sipil, 30 orang non-PNS (honorer), dan 5 orang pendukung yang menjadi pemain, pengrawit dan sinden yang mendukung pertunjukan Wayang Orang Sriwedari. Mereka melakukan pementasan setiap hari pada pukul 20.00-22.00, kecuali pada hari Minggu malam.

Prabu Siwandakala dan Putri Sriwitari
Kembali ke Gedung Wayang Orang Sriwedari, pada pukul 20.30 akhirnya lampu dimatikan dan layar bergambar gunungan dibuka, menandakan pertunjukan wayang orang dimulai. Adegan pertama diawali dengan munculnya tokoh Prabu Siwandakala dari kerajaan Medang Sawanda, tiga orang pria yang sepertinya merupakan senopati (panglima perang), serta para selir yang mengenakan kemben warna merah. Karena pada waktu masuk ke ruangan saya tidak sempat melihat judul cerita pada hari itu, serta tidak ada sinopsis yang dibagikan, saya menebak-nebak dengan mencoba mendengarkan dialog yang dibawakan. Walaupun dialog disampaikan menggunakan bahasa Jawa yang masih bisa saya mengerti, namun saya masih belum bisa menyimpulkan judul pertunjukan pada hari itu, kecuali bahwa lakon yang dimainkan hari ini bukan merupakan kisah utama dari Mahabharata, melainkan salah satu kembangannya.

Suasana pertunjukan mulai menjadi meriah ketika tokoh Putri Sriwitari, adik dari Prabu Siwandakala muncul ke panggung. Walaupun merupakan seorang satria wanita yang sakti, namun Putri Sriwitari memiliki karakter yang manja pada kakaknya. Kecerewetan yang ditampilkan dalam dialog yang “mrepet” (nyaris tak berujung) dengan nada tinggi ini membuat Rinta, yang sebenarnya tidak mengerti satu pun dialog yang diucapkan dalam bahasa Jawa, sangat terhibur melihat cara sang pemain menggambarkan karakter tokohnya. Tidak hanya terhibur dengan kelucuan yang terjadi di atas panggung, Rinta juga memperhatikan bahwa walaupun harga tiket masuk sangat murah bagi kami, pertunjukan ini digarap dengan sangat serius, mulai dari panggung dengan dekor yang ditata apik, kostum yang terlihat berkilau dan terawat, dandanan para pemain yang sangat serius sesuai dengan karakternya, dan bahkan akting para pemain pun terlihat sangat serius.

Prabu Siwandakala Menyerbu Kerajaan Mandura dan Dwarawati
Beralih ke adegan berikutnya, ketika Prabu Siwandakala mengirimkan ultimatum untuk menaklukan kerajaan Mandura di bawah pimpinan Prabu Baladewa, kerajaan Dwarawati di bawah pimpinan Prabu Kresna, dan kerajaan Amarta di bawah pimpinan Puntadewa dan Pandawa Lima. Mulailah terjadi perang kembang antara para patih kerajaan Medang Sewanda dan Setyaki, panglima dari kerajaan Dwarawati, yang dibawakan melalui tarian yang seru. Sayang sekali, Setyaki harus mengakui kesaktian Prabu Siwandakala, dan para senapati dari Mandura dan Dwarawati harus mundur dari medan peperangan.

Bagong, Petruk dan Gareng Dengan Banyolannya
Munculnya para punakawan (Bagong, Petruk, dan Gareng) memberikan penyegaran suasana bagi penonton untuk sejenak tertawa melihat banyolan-banyolan mereka. Punawakan ini merupakan tokoh khas wayang Indonesia, yang tidak dijumpai di kisah Mahabharata versi asli dari India. Bagi beberapa orang, para punawakan ini seolah “berfungsi” untuk menyeimbangkan pertunjukan agar tidak terlalu “berat”. Namun para punakawan ini sebenarnya mewakili rakyat atau orang kebanyakan yang bertugas mengasuh sekaligus menasehati para ksatria yang berbudi luhur, melakukan kritis sosial, sekaligus sebagai sumber kebenaran dan kebijakan, yang dibawakan melalui banyolan.

Setelah Bagong, Petruk dan Gareng selesai mengocok perut penonton dengan banyolan baris berbarisnya, adegan beralih ketika Sriwitari bertemu dengan Arjuna. Begitu pemeran Arjuna muncul, kami langsung berkomentar, “waaa... ganteng yaaa....”. Arjuna memang dikenal sebagai “lananging jagat”, yang berparas rupawan, berhati lembut, namun sekaligus seorang kesatria unggulan dan petarung tanpa tanding di medan laga. Karakter-karakter inilah yang membuat Arjuna dianggap sebagai perwujudan lelaki seutuhnya, sehingga dalam pertunjukan wayang orang, tokoh Arjuna sedapat mungkin ditampilkan oleh penari laki-laki yang berparas tampan dan memiliki aura lembut, serta ditampilkan dengan kostum yang lebih menyolok dibandingkan karakter lainnya.

Putri Sriwitari Tengah Merayu Arjuna
Namun di dalam kisah hari ini, Arjuna menolak cinta dari Sriwitari. Rayuan Sriwitari dan penolakan Arjuna digambarkan dalam dialog dan tarian yang kalem, jauh berbeda dengan adegan-adegan penolakan cinta yang biasa kita tonton dalam sinetron. Karena cintanya ditolak Arjuna, Sriwitari dengan kesaktiannya mengutuk Arjuna menjadi banteng. Setelah adegan Arjuna berubah menjadi banteng, Murni mencoba googling, dan barulah kami tahu bahwa judul lakon yang hari ini kami saksikan adalah “Arjuna Bantheng”.

Arjuna Dikutuk Menjadi Banteng
Setelah Arjuna dikutuk menjadi banteng, Prabu Siwandakala dan para senopatinya melanjutkan penyerbuan ke Kerajaan Amarta dan menyerang keluarga Pandawa. Tidak sanggup menghadapi kesaktian Prabu Siwandakala, keluarga Pandawa menyingkir dan meminta nasihat dari Kresna. Saat itu para punakawan membawa banteng jelmaan Arjuna kepada keluarga Pandawa. Di tengah kedukaan keluarga Pandawa karena mengetahui saudara mereka dikutuk menjadi banteng, Kresna menyatukan dirinya dengan banteng tersebut, untuk kemudian menghadapi Prabu Siwandakala.

Banteng Jelmaan Arjuna dan Kresna Menghadapi Prabu Siwandakala
Perang tanding antara Prabu Siwandakala dan Putri Sriwitari melawan Kresna dan Arjuna tidak terelakkan. Ketika banteng terkena senjata candrasa milik Prabu Siwandakala, banteng tersebut berubah wujud kembali menjadi Kresna dan Arjuna, yang kemudian melanjutkan perang tanding dengan Prabu Siwandakala dan Putri Sriwitari. Pertunjukan wayang hari itu diakhiri dengan kemenangan Kresna dan Arjuna. Setelah Kresna dan Arjuna memenangkan pertandingan, layar bergambar gunungan ditutup, para pengrawit dan pesinden meninggalkan tempatnya, dan penonton pun satu per satu beranjak meninggalkan kursinya meninggalkan Gedung Pertunjukan.

Kresna dan Arjuna

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Visit Jawa Tengah Periode 6.


Friday, October 9, 2015

Batik Pekalongan, Potensi Destinasi Wisata Minat Khusus Budaya


Salah satu jenis wisata minat khusus yang saat ini dikembangkan di Indonesia adalah wisata sejarah dan budaya, dengan mengunjungi tempat-tempat yang bukan merupakan tempat wisata umum, namun memiliki daya tarik yang unik yang membuat para peminat sejarah dan budaya untuk datang ke tempat tersebut. Di Jawa Tengah, salah satu tempat yang potensial untuk dijadikan destinasi wisata minat khusus budaya adalah Pekalongan yang merupakan salah satu sentra batik pesisir di pantai utara Jawa.

Industri batik di Pekalongan telah tumbuh sejak periode 1850-1860. Batik Pekalongan memiliki ciri khas tersendiri, yaitu menggunakan warna-warna cerah dengan pola khas yang merupakan perpaduan pengaruh budaya Jawa, Cina, Arab, dan Eropa. Jenis batik Pekalongan yang populer adalah batik buketan (motif bunga yang dipengaruhi gaya Eropa), batik encim (motif dipengaruh budaya Cina seperti burung hong dan naga) serta batik Djawa Hokokai (motif bunga sakura dan kupu-kupu yang diciptakan pada masa penjajahan Jepang).

Salah satu pengrajin batik encim khas Pekalongan adalah Rumah Batik Liem Ping Wie di Jl. Raya No. 192, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan. Rumah batik ini dikelola oleh putri keenam Liem Ping Wie yang bernama Liem Poo Hien. Jika diperhatikan dengan seksama, batik encim produksi Rumah Batik Liem Ping Wie buatannya lebih halus jika dibandingkan dengan batik encim kebanyakan. Pengunjung Rumah Batik Liem Ping Wie bisa mengunjungi workshop yang terletak di belakang rumah untuk melihat proses pembuatan batik dengan teknik tulis dan cap. Mencanting dan mengoreksi hasil canting yang rusak dikerjakan oleh karyawan perempuan, sedangkan batik cap dikerjakan oleh karyawan laki-laki. Satu helai batik tulis produksi Rumah Batik Liem Ping Wie diproduksi selama 2 tahun, dengan harga mulai dari 2 juta hingga 15 juta, bergantung tingkat kehalusan motif dan kerumitan pembuatannya.

Pengrajin Batik Cap di Workshop Rumah Batik Lim Ping Wie
Jenis batik lain yang juga merupakan khas Pekalongan adalah batik Djawa Hokokai. Batik ini memiliki warna tegas dengan motif bunga sakura dan kupu-kupu yang dipengaruhi budaya Jepang. Ciri khas dari batik ini adalah motifnya yang dibuat “pagi-sore”, di mana dalam satu helai kain panjang memiliki 2 motif batik yang berbeda warna. Motif dengan warna terang digunakan untuk pagi hari, sedangkan motif dengan warna gelap digunakan untuk acara malam hari. Salah satu produsen batik Djawa Hokokai adalah Bapak Fatkhul Huda, yang memiliki workshop di Kecamatan Wiradesa.

Pengrajin Batik Tulis di Workshop Pak Fatkhul Huda
Selain jenis batik Pekalongan yang sudah dikenal masyarakat, terdapat jenis batik Pekalongan yang unik, yaitu batik Jlamprang. Batik ini merupakan kreasi batik yang diilhami motif kain Patola yang dibawa para pedagang dari Gujarat ke Jawa di abad ke-17, yang merupakan komoditi dagang yang digemari golongan masyarakat menengah ke atas. Ketika kain Patola mulai langka di pasaran, para pengusaha batik mencoba meniru motif kain Patola menggunakan proses membatik, yang kemudian disebut Batik Jlamprang. Saat ini hanya tinggal sedikit pengrajin batik Jlamprang di Pekalongan, salah satunya adalah Bapak Umar Qoyiim yang tinggal di daerah Krapyak, Kota Pekalongan.

Batik Jlamprang Kreasi Bapak Umar Qoyiim
Jika waktu kita terbatas untuk berkunjung ke pengrajin di pelosok Kabupaten Pekalongan, kita bisa berkunjung ke Kampung Wisata Batik Kauman dan Kampung Wisata Batik Pesindon yang terletak di Jl. Hayam Wuruk, Kawasan Kota Tua Pekalongan. Kedua kampung batik yang terletak berseberangan ini merupakan cikal bakal industri batik di Pekalongan. Tak hanya melihat-lihat batik, kita bisa cuci mata dengan menikmati arsitektur bangunan-bangunan kuno, serta hiasan motif batik yang dilukiskan di tembok-tembok bangunan.

Lukisan Batik di Lorong di Kampung Wisata Batik Pesindon
Jangan lupa untuk mengunjungi Museum Batik Pekalongan, yang beralamat di Jl. Jetayu No. 1, Kota Pekalongan. Museum yang menempati bangunan bergaya art deco peninggalan masa kolonial Belanda ini memiliki koleksi yang terkait dengan batik, seperti peralatan membuat batik, koleksi batik pesisir dari berbagai daerah, koleksi batik Vorstendlanden (batik pedalaman) dari keraton Yogyakarta dan Surakarta, serta aneka koleksi batik Nusantara dari berbagai daerah di Indonesia. Jumlah koleksi batik museum ini mencapai lebih dari 1000 buah, dan karena keterbatasan tempat harus dipamerkan secara bergiliran. Pengunjung museum juga dapat mengetahui lebih jauh mengenai batik dengan mengunjungi perpustakaan, atau belajar membatik dengan canting tulis atau canting cap di workshop yang terletak di belakang museum.

Pengunjung Museum Belajar Menggunakan Canting

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Visit Jawa Tengah Periode 5.



Thursday, September 24, 2015

Piknik Itu Menyembuhkan

"Tampaknya dia kurang piknik". Kalimat ini sedang sering mencuat di berbagai media sosial, dan biasanya ditujukan bagi mereka yang sedang tegang, memiliki tingkat keseriusan sangat tinggi, atau mereka-mereka yang ngenes. Secara harfiah, "piknik" berarti wisata, liburan, dan refreshing. Jadi istilah "kurang piknik" secara harfiah berarti yang bersangkutan kurang melakukan aktivitas yang terkait dengan kesenangan. Dan sebagai penggila jalan-jalan, saya percaya "kurang piknik" memang membawa dampak kurang baik.

Kalau ditanya apakah piknik itu penting, saya akan menjawab "Ya" dengan tegas. Bagi saya, piknik bukan sekadar bersenang-senang. Piknik itu penting, karena merupakan salah satu cara saya menghilangkan kejenuhan dari rutinitas. Piknik itu penting, karena membuat saya melihat banyak hal di luar lingkungan sehari-hari tempat saya beraktivitas. Dan ternyata saya menemukan manfaat lain dari piknik: piknik itu menyembuhkan. Kok bisa?

Kisah ini berawal di bulan April 2014, ketika aktivitas saya di tempat kerja sangat padat, membuat saya kena serangan batuk nyaris tak berhenti selama berhari-hari. Besar kemungkinan saya kena batuk gara-gara kurang piknik. Di minggu kedua April, saya sudah punya rencana pergi ke Muntilan. Sempat terpikir oleh saya, lagi sakit batuk begini, apa saya masih bisa menikmati pikniknya? Tapi lagi-lagi, karena rutinitas kantor yang semakin meningkat, justru membuat saya membulatkan tekad untuk pergi ke Muntilan.

Bertepatan dengan akhir pekan liburan Paskah tahun 2014, saya, Anggi, dan Risky berangkat dari Yogya ke Muntilan, menuju Candi Borobudur. Candi Borobudur sendiri merupakan obyek wisata yang sangat mainstream, dan kami sudah beberapa kali mengunjungi candi tersebut. Yang kami tuju sebenarnya adalah Punthuk Setumbu, sebuah bukit di mana kita bisa melihat matahari terbit dari balik pasangan gunung Merapi-Merbabu, dan melihat siluet Candi Borobudur bagaikan melayang di lautan awan.

Inilah Pemandangan Yang Kami Kejar!
Setelah menginap semalam di Desa Wanurejo, Muntilan, baru keesokan paginya kami menuju ke Punthuk Setumbu. Kokok ayam bersahut-sahutan membangunkan kami tepat pukul 4 pagi, seolah mengingatkan kami untuk bangun dan bersiap-siap mengejar matahari terbit di Punthuk Setumbu. Pak Erwin, pemilik penginapan, sudah menunggu di beranda rumah dan mengingatkan agar kami berangkat sepagi mungkin, sebelum kehabisan tempat di atas bukit. Bersama tamu Pak Erwin lainnya yang berasal dari Taiwan, kami berangkat beriringan menggunakan 2 mobil. Di tengah kegelapan, melintasi jalan-jalan di perkampungan Desa Wanurejo, kami sangat tak sabar untuk menuju ke bukit yang tersohor ini.

Kami beruntung masih bisa mendapatkan tempat parkir di dekat pintu masuk. Setelah membeli tiket, saya, Anggi dan Risky mulai menapaki jalan setapak menuju puncak bukit. Tetesan embun pagi menjadikan jalan yang belum disemen itu menjadi agak becek, membuat perjalanan menjadi sedikit lebih berat. Mendekati bagian akhir, jalan mulai menanjak. Walaupun sudah dibantu undak-undakan tanah yang diperkuat bambu, rasanya kaki dan napas masih terasa berat untuk melangkah, sehingga saya harus beberapa kali berhenti untuk menarik napas dan mengumpulkan tenaga. Agak degdegan juga, takut akibat kedinginan atau terlalu capek, jangan-jangan sakit batuk saya menjadi makin parah.
Anggi, Risky, dan saya di Punthuk Setumbu
Setelah 20 menit berjalan, akhirnya kami tiba di puncak Punthuk Setumbu. Terlihat para fotografer, baik yang profesional maupun fotografer ponsel, sudah memenuhi puncak bukit. Beruntung kami masih kebagian spot di dekat pagar. Tanpa menunggu lebih lama, kami mencoba mencari di mana letak Candi Borobudur. Rupanya tak mudah menemukan siluet Candi Borobudur di tengah kegelapan. Bahkan setelah dibantu cahaya sang fajar, siluet candi tersebut masih belum bisa ditemukan. Baru setelah matahari mulai mengintip dari balik Gunung Merapi, siluet mahakarya dari wangsa Syailendra ini terlihat di sebelah kanan dari Gunung Merapi. Akhirnya, perjalanan mendaki bukit yang tampak melelahkan beberapa menit yang lalu terbayar lunas! Kami segera mengabadikan momen-momen menakjubkan ini, sebelum matahari bertambah tinggi dan kabut yang menyelimuti Borobudur menghilang ditelan cahaya.

Para Fotografer yang Mengabadikan Sunrise di Punthuk Setumbu

Lautan Awan dilihat dari Punthuk Setumbu
Cahaya matahari semakin terang ketika kami bergerak menelusuri jalan setapak, kembali ke arah parkir mobil. Masih terbayang-bayang di benak kami siluet Candi Borobudur yang seolah mengapung di atas awan. Apakah ini yang disebut dengan nirwana? Begitu saya masuk mobil dari Risky mengarahkan mobil kembali ke arah Pasar Borobudur, baru saya menyadari sesuatu: saya sama sekali tidak batuk selama perjalanan ke Punthuk Setumbu. Berarti batuk saya langsung sembuh begitu melihat pemandangan luar biasa ini!

Walaupun saya senang jalan-jalan ke luar domisili saya di Jakarta, saya berprinsip bahwa piknik tidak perlu jauh-jauh dan tidak perlu mahal. Terkadang saya juga memilih pergi ke obyek wisata yang dekat-dekat dengan Jakarta. Salah satunya adalah pergi liburan di Bogor. Masih banyak obyek menarik di Bogor yang belum saya kunjungi, terutama situs-situs sejarah di Bogor. Ada Museum PETA, ada Prasasti Batutulis, ada Makam Raden Saleh, dan masih ada situs-situs sejarah di Bogor yang menunggu untuk dikunjungi. Hmmm... sekarang saja saya sudah mulai membuka agenda, kapan ya saya bisa liburan di Bogor?

Postingan ini diikutkan pada “Lomba Blog Piknik itu Penting”.

Saturday, July 4, 2015

10 Destinasi Wisata Sejarah dan Budaya Favorit di Jawa Tengah

Anda pecinta wisata sejarah dan budaya? Jawa Tengah adalah tempat yang tepat dijadikan sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya. Jawa Tengah merupakan tempat asal muasal manusia Jawa. Jawa Tengah juga merupakan pusat peradaban sejak masa silam yang menjadi pusat perkembangan budaya manusia. Inilah mengapa di Jawa Tengah Anda bisa menemukan berbagai ragam destinasi wisata sejarah dan budaya yang menarik. Banyak peristiwa bersejarah yang terjadi di Jawa Tengah, sehingga begitu banyak peninggalan sejarah yang kemudian dijadikan destinasi wisata. Demikian juga dengan budaya, begitu banyak kekayaan budaya di Jawa Tengah yang dijadikan destinasi wisata, baik budaya khas Jawa Tengah, maupun budaya-budaya lokal yang telah menyerap berbagai pengaruh dari luar.

Apa saja destinasi wisata sejarah dan budaya favorit Jawa Tengah? Inilah 10 destinasi wisata sejarah dan budaya favorit Jawa Tengah versi saya!

 1. CANDI BOROBUDUR
Tak ada yang memungkiri Borobudur adalah destinasi wisata budaya paling top di Jawa Tengah. Candi Buddha terbesar di dunia ini terletak di Muntilan, Magelang. Didirikan pada abad ke 8-9 Masehi oleh Dinasti Syailendra dari kerajaan Mataram Kuno, saat ini Candi Borobudur sudah diakui UNESCO sebagai salah satu Situs Warisan Dunia.


Keunikan dari Candi Borobudur adalah bangunannya dibuat menutupi sebuah bukit alam. Candi ini juga dilengkapi dengan deretan relief yang jika dijajarkan, panjangnya mencapai 3000 meter. Relief-relief ini terdiri dari kisah Sang Budha, berbagai ajaran sang Budha dari India, serta gambaran kehidupan masyarakat Jawa pada masa itu. Relief yang ada di candi Borobudur diakui sebagai relief yang paling elegan dan anggun di antara karya seni berlanggam Buddha lainnya.

Saat ini Candi Borobudur masih digunakan sebagai tempat ziarah keagamaan. Setiap tahunnya umat Buddha dari seluruh Indonesia dan mancanegara berkumpul di Candi Borobudur untuk memperingati Trisuci Waisak. Lengkapi kunjungan ke Candi Borobudur dengan mengunjungi Candi Mendut dan Candi Pawon, yang merupakan bagian dari prosesi para biksu dalam memperingati Hari Raya Waisak. Tak lupa singgah juga di Vihara Mendut untuk melihat rupang Sleeping Buddha di halaman depan vihara.

 2. LAWANG SEWU 
Bangunan antik yang terletak di depan Tugu Muda, Kota Semarang ini memiliki begitu banyak pintu, sehingga diberi nama “Lawang Sewu”. Sejarah bangunan ini terkait erat dengan sejarah kereta api di Indonesia. Bangunan ini dibuat pada tahun 1904, dan pada awalnya digunakan sebagai kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij, perusahaan kereta api yang menjadi cikal bakal perusahaan kereta api di Indonesia.


Dengan bentuknya yang unik, Lawang Sewu sering digunakan sebagai tempat pameran atau dijadikan lokasi syuting film. Banyak spot-spot foto yang menarik di tempat ini, salah satunya adalah jendela di antara tangga yang dihiasi kaca patri warna warni. Namun tempat yang paling membuat penasaran adalah ruang bawah tanah yang dibangun pada tahun 1916. Awalnya ruang bawah tanah ini digunakan sebagai penampung air, khususnya karena Kota Semarang rawan banjir. Namun saat Lawang Sewu diambil alih oleh Jepang di tahun 1942, ruangan ini digunakan sebagai penjara dan tempat penyiksaan. Oleh karena lokasinya yang wingit, banyak yang melakukan “Uji Nyali” di tempat ini.

 3. LITTLE NEDERLAND 
Jalan-jalan ke Semarang, jangan lewatkan untuk melihat Kawasan Kota Tua Semarang, atau dikenal sebagai Little Nederland. Di kawasan seluas 30 hektar yang terletak di Kelurahan Bandarharjo, Semarang Utara ini terdapat bangunan-bangunan antik yang mendapat pengaruh gaya bangunan Eropa. Karena dikelilingi jalan satu arah, untuk bisa menikmati keindahan bangunan di kawasan ini sebaiknya kita masuk melalui Jl. Merak, kemudian lanjut ke Jl.Cendrawasih, dan berbelok kanan ke Jl. Dr. Suprapto.

Di antara bangunan-bangunan antik yang terdapat di Little Nederland, terdapat beberapa bangunan yang cukup menonjol dan menarik untuk dieksplorasi lebih lanjut. Di antaranya adalah Marabunta Gedung Multiguna, replika dari gedung pertunjukan Komedi Stadschouwburg. Gedung yang dicirikan dengan patung semut raksasa di atas atapnya ini terkenal karena pernah menjadi tempat pementasan Mata Hari, seorang penari eksotis berkebangsaan Belanda yang menjadi mata-mata Jerman pada Perang Dunia I.


Ikon Kawasan Kota Tua Semarang adalah Gereja Blenduk. Bangunan dengan nama resmi GPIB Immanuel ini memiliki ciri khas atap berbentuk kubah, yang dalam bahasa Jawa disebut “blenduk”. Dari bangunan-bangunan di Kawasan Kota Tua, Gereja Blenduk merupakan bangunan yang paling terawat. Di dalam bangunan gereja, kita bisa melihat orgel antik yang diletakkan di atas balkon. Sayang orgel ini sudah tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

 4. SAM POO KONG 
Semarang dikenal sebagai kota 1001 klenteng, karena kota ini memiliki kutur budaya etnis Tionghoa yang begitu kuat. Di antara klenteng-klenteng yang tersebar di seluruh Kota Semarang, terdapat sebuah klenteng yang unik dan menjadi ikon Kota Semarang, yaitu Klenteng Sam Poo Kong yang terletak di Jl. Simongan, Bongsari.

Klenteng Sam Poo Kong merupakan petilasan Laksamana Cheng Ho, seorang laksamana muslim kepercayaan Kaisar Tiongkok, yang memimpin ekspedisi kekaisaran Tiongkok ke Nusantara di awal abad ke-15. Klenteng ini didirikan oleh anak buang Cheng Ho di Semarang sebagai penghormatan kepada Cheng Ho yang dianggap telah berjasa dalam memimpin anak buahnya selama melakukan ekspedisi. Klenteng ini dikenal sebagai Gedung Batu, karena bangunan utamanya berbentuk gua batu besar yang diyakini merupakan tempat pendaratan ekspedisi Cheng Ho di Jawa. Di dalam gua ini terdapat patung Sam Poo Tay Djien, yang dianggap sebagai perwujudan Laksamana Cheng Ho.


Selain Gedung Batu, Klenteng Sam Poo Kong dilengkapi dengan berbagai bangunan yang menjadi tempat ibadah. Berbeda dengan klenteng pada umumnya, bangunan-bangunan di kompleks Klenteng Sam Poo Kong dibuat dengan arsitektur perpaduan antara gaya arsitektur Tiongkok dan Jawa. Uniknya, bangunan terbesar di kompleks klenteng ini dibangun dengan menghadap ke arah kiblat. Di tempat ini juga terdapat Anjungan Kyai Djangkar, di mana terdapat sebuah jangkar yang dipercaya merupakan jangkar dari kapal yang digunakan Laksamana Cheng Ho untuk melakukan ekspedisi ke Nusantara.

5. CANDI GEDONG SONGO
Kompleks Candi Gedong Songo terletak di Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Nama “Gedong Songo” menunjukkan bahwa kompleks candi ini terdiri dari 9 bangunan yang tersebar di lereng Gunung Ungaran, di antara hutan pinus dan perkebunan sayur milik masyarakat, memberikan panorama yang unik sekaligus indah yang jarang ditemukan di tempat lain.


Tidak ada catatan atau prasasti yang menunjukkan secara pasti kapan Kompleks Candi Gedong Songo dibangun. Namun berdasarkan hasil penelitian para ahli, kompleks percandian ini dibangun pada masa yang sama dengan candi-candi di Dataran Tinggi Dieng, dari masa Dinasti Sanjaya di Mataram Kuno. Diperkirakan Candi Gedong Songo merupakan bangunan agama Hindu tertua di Jawa, lebih tua dibandingkan Candi Borobudur dan Prambanan.

Untuk melihat seluruh bangunan candi yang tersebar, terdapat jalan setapak sepanjang 4 kilometer yang mengelilingi kompleks percandian. Jalan setapak ini melewati daerah perbukitan dengan kontur naik turun, dan sepanjang jalan kita bisa menikmati panorama Gunung Ungaran yang asri. Jika Anda merasa tidak kuat atau memiliki waktu yang terbatas, manfaatkan jasa transportasi kuda untuk berkeliling kompleks bangunan candi.

6. KAMPUNG BATIK LAWEYAN 
Mengunjungi Solo, jangan lupa mampir ke Kampung Batik Laweyan. Kawasan sentra batik ini sudah ada sejak jaman Kerajaan Pajang di tahun 1546 Masehi. Kampung batik ini juga merupakan salah satu saksi bisu gerakan perjuangan bangsa Indonesia, ketika organisasi Sarekat Dagang Islam (cikal bakal organisasi Sarekat Islam) didirikan oleh Haji Samanhudi di Solo pada tahun 1905.


Kampung Batik Laweyan menempati wilayah seluas 24 hektar yang menampung ratusan pengrajin batik. Batik yang dijual di tempat ini umumnya batik dengan motif khas Solo, seperti Tirto Tejo dan Truntum. Selain menjual kain, toko-toko di kawasan ini juga menjual pakaian jadi dalam berbagai model dan kualitas. Beberapa toko memiliki workshop, di mana Anda bisa melihat proses pembuatan batik tulis dan batik cap oleh para pengrajin batik. Tak hanya melihat batik, Anda juga bisa melakukan “blusukan” untuk melihat rumah-rumah khas Jawa tempo doeloe.

7. CANDI CETHO 
Candi Cetho terletak di Dusun Ceto, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, di ketinggian 1400 meter dpl. Nama “Cetho”dalam bahasa Jawa berarti “jelas”, dan nama ini diberikan karena dari tempat ini dapat terlihat pemandangan ke berbagai arah dengan jelas. Dari hasil penelitian para ahli, diketahui Candi Cetho merupakan candi bercorak Hindu, dan berasal dari masa akhir kerajaan Majapahit di abad ke-15. Sampai saat ini candi ini masih digunakan untuk beribadah oleh penduduk setempat yang memeluk agama Hindu.


Saat penggalian, diketahui kompleks Candi Cetho berbentuk seperti punden berundak yang terdiri dari 14 teras bertingkat. Dari 14 tingkat tersebut, hanya 9 teras yang dipugar, seperti yang terlihat saat ini. Keunikan dari Candi Cetho terletak di teras ketiga, di mana terdapat tataan batu mendatar di permukaan tanah yang menggambarkan simbol phallus, simbol surya Majapahit, dan kura-kura raksasa. Simbol-simbol ini diduga merupakan simbol penciptaan alam semesta dan penciptaan manusia. Sedangkan di teras keempat terdapat jajaran batu yang memuat relief kisah Sudhamala, yang mendasari upacara ruwatan di masyarakat Jawa.

8. MUSEUM PURBAKALA SANGIRAN 
Tahukah Anda bahwa Jawa Tengah merupakan salah satu tempat munculnya peradaban manusia purba awal? Di Museum Purbakala Sangiran kita akan mendapatkan informasi lengkap mengenai hal ini. Museum ini menyimpan berbagai peninggalan arkeologis dan paleontologis yang ditemukan di Situs Kepurbakalaan Sangiran yang terletak di lembah Bengawan Solo. Tak hanya penting bagi Indonesia, UNESCO sudah mengakui bahwa kawasan Sangiran merupakan tempat penelitian kehidupan prasejarah terpenting di dunia, dan di tahun 1996 menetapkan Sangiran sebagai Situs Warisan Dunia. Tidak kurang dari 13.809 fosil ditemukan di tempat ini, sejak penelitian Koeningswald yang dimulai pada tahun 1936.


Pendirian Museum Sangiran berawal dari adanya kebutuhan wisatawan yang ingin melihat fosil-fosil yang ditemukan di Sangiran, yang saat itu disimpan di kediaman Bapak Toto Sumarsono. Setelah Sangiran ditetapkan sebagai Cagar Budaya pada tahun 1977, di tahun 1980 mulai dibangun sebuah museum yang representatif. Adapun Museum Purbakala Sangiran yang berdiri sekarang adalah bangunan baru yang diresmikan pada tahun 2011. Museum ini sudah ditata secara modern, di mana kisah sejarah manusia purba dipaparkan secara runut dan sistematis. Di dalam museum ini dipamerkan berbagai fosil manusia purba, hewan bertulang belakang, binatang air, tumbuhan laut, serta berbagai artefak peralatan dari batu.

9. MUSEUM KERETA API AMBARAWA 
Naik kereta api, tut tut tut, siapa hendak turut! Kereta api saat ini kembali menjadi salah satu moda transportasi favorit untuk bepergian antar kota. Sejarah perkeretaapian Indonesia dimulai di Semarang, dengan berdirinya Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij yang berkantor di Lawang Sewu. Tapi mengapa Museum Kereta Api-nya terletak di Ambarawa ya?


Rupanya hal ini tidak lepas dari keunikan Stasiun Ambarawa. Stasiun Ambarawa merupakan stasiun transit antara jalur kereta Semarang-Ambarawa yang menggunakan lebar rel 1435 mm, dengan jalur Ambarawa-Magelang-Yogyakarta yang menggunakan lebar rel 1067 mm. Keberadaan stasiun ini tidak lepas dari fungsi Ambarawa sebagai kota militer, di mana kereta api digunakan untuk mengangkut tentara dari Ambarawa ke Semarang. Untuk itu Raja Willem I memerintahkan membangun stasiun kereta api, yang kita kenal sebagai Stasiun Ambarawa.

Museum Kereta Api Ambarawa yang beralamat resmi di Jl. Stasiun Ambarawa No. 1, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang merupakan museum terbuka dengan koleksi utama berupa lokomotif dan perlengkapan dunia perkeretaapian. Museum ini diresmikan pada tahun 1978, dan memamerkan koleksi utama berupa 22 lokomotif uap. Di antara lokomotif yang disimpan di museum ini, 2 di antaranya merupakan lokomotif bergigi yang masih bisa berfungsi menarik gerbong wisata di jalur menanjak antara stasiun Jambu dan Bedono. Selain lokomotif, Museum Kereta Api Ambarawa juga memiliki koleksi alat-alat dari dunia kereta api, termasuk mesin pencetak tiket, alat pengatur sinyal, peluit, dan seragam petugas kereta api.

10. MUSEUM BATIK PEKALONGAN 
Pekalongan merupakan sentra batik pesisir di utara Jawa, sehingga sudah sepantasnya kota ini memiliki museum batik. Museum Batik Pekalongan terletak di Jl. Jetayu No. 1, Pekalongan, di dekat Alun-Alun yang menjadi jantung Kota Pekalongan. Menempati sebuah gedung tua peninggalan kolonial Belanda bergaya art deco, museum ini merupakan tempat kita belajar batik sekaligus belajar membatik.


Koleksi batik di Museum Batik Pekalongan dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu koleksi batik pesisir, koleksi batik Nusantara, dan koleksi batik pedalaman dari Yogyakarta dan Surakarta. Di museum juga terdapat peragaan bahan-bahan pembuat batik. Sedangkan di bagian belakang museum terdapat workshop, di mana terdapat peragaan pembuatan batik. Pengunjung dapat mencoba mencanting malam ke atas kain mori, untuk merasakan sendiri bagaimana salah satu bagian dari proses membuat batik.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Utama Blog Visit Jawa Tengah 2015

Saturday, June 6, 2015

Selat Solo, Cita Rasa Kuliner Blasteran Jawa-Eropa

Di Solo ada selat? Ya, memang ada, tapi jangan bayangkan selatnya adalah laut antara dua pulau. Selat Solo adalah makanan khas Solo yang dipengaruhi gaya kuliner Eropa. Sekilas, hidangan ini seperti gabungan antara steak daging, salad sayuran, dan sup. Walaupun dipengaruhi kuliner Eropa, Selat Solo sudah menjadi salah satu trademark Kota Solo, dan dapat ditemui mulai dari warung lesehan hingga restoran papan atas.

Salah satu tempat yang happening banget untuk makan Selat Solo adalah Warung Mbak Lies di Serengan. Warung yang satu ini lokasinya ada di dalam gang, tepatnya Serengan Gg II No. 42. Tapi untuk menemukan tempatnya tidak sulit. Dari perempatan Serengan pergi ke arah Selatan hingga bertemu Gang II yang terletak di sisi kiri jalan. Akan terlihat papan petunjuk “Warung Selat Mbak Lies”. Jika membawa mobil, mobil bisa diparkir di lahan-lahan parkir yang tersedia di dalam gang, atau diparkir di tepi jalan besar. Perlu dicatat, walau sudah buka sejak tahun 1987, Mbak Lies tidak membuka cabang, jadi kalau mau makan Selat Solo Mbak Lies, ya harus datang ke Serengan.

Papan Petunjuk ke Warung Selat Mbak Lies
Setelah sampai di TKP, jangan bingung karena Warung Selat Mbak Lies terdiri dari beberapa tempat. Ya, Mbak Lies menggunakan beberapa rumah sebagai tempat makan, karena peminat Selat Solo buatannya terus bertambah, dan kadang-kadang datang secara berombongan. Namun setiap tempat punya ciri khas yang serupa, yaitu banyaknya pernak pernik dari keramik. Pernak-pernik berukuran kecil diletakkan sebagai hiasan dinding dan meja, sedangkan beberapa guci berukuran besar diletakkan di sudut-sudut ruangan sebagai pemanis ruangan. Ruangan yang nyaman ini juga dilengkapi ilustrasi musik campur sari khas Jawa Tengah. Di dinding terpasang foto para selebriti yang pernah makan di Warung Selat Mbak Lies, mulai dari para artis, pejabat, hingga mantan pejabat.

Suasana di Warung Selat Mbak Lies
Menu Selat yang dijual Mbak Lies ada 2 macam varian, yaitu Selat Bestik dan Selat Galantine. Perbedaannya adalah kalau Selat Bestik menggunakan potongan daging, kalau Selat Galantine menggunakan galantine atau rolade daging. Untuk varian Selat Galantine, kita bisa minta kuah segar seperti Selat Bestik, atau kuah saos yang berwarna merah. Favorit saya adalah Selat Bestik, yang terdiri dari potongan daging dilengkapi dengan buncis, wortel, kentang, telur, kacang polong, irisan bawang mentah, dan sedikit saus mustard, disiram kuah bening yang segar. Semua bahan-bahan ini memberikan paduan rasa yang unik antara manis, asam, gurih, dan segar. Untuk menikmati Selat Segar Mbak Lies, datanglah sebelum jam 5 sore, karena setelah jam 5 sore biasanya selatnya sudah habis.

Selat Bestik
Bagi yang sudah sering mencoba selat segar dan ingin mencoba makanan lain, Mbak Lies juga menyediakan menu-menu lain, seperti sup matahari (sejenis selat dengan telur yang dibentuk seperti bunga), timlo, sup galantin, sup manten, gado-gado, tahu acar, dan setup macaroni. Sebagai pelengkap khususnya saat cuaca Solo sedang panas, Anda bisa memesan es beras kencur atau es tape ijo. Anda juga bisa memesan es degan (kelapa muda) yang ditambah sirup, gula pasir, atau gula jawa.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Visit Jawa Tengah Periode 3.
 Lomba Blog Wisata Jateng 3